Luna Maya dan Maxime Bouttier Punya Harapan Manis Soal Anak Pertama, Sudah Siap Jadi Ayah?
Pernikahan memang sering bikin orang penasaran. Baru beberapa waktu menikmati momen sebagai pasangan suami istri, eh pertanyaan berikutnya langsung datang tanpa aba-aba, "Kapan punya anak?" Lucunya, pertanyaan ini rasanya sudah jadi "tradisi turun-temurun" di Indonesia. Mau lagi makan bakso, lagi kondangan, bahkan baru duduk lima menit di ruang tamu keluarga, pertanyaan itu bisa muncul lebih cepat daripada teh manis dihidangkan. Nah, obrolan soal itulah yang baru-baru ini ikut menghangat setelah Maxime Bouttier berbagi cerita tentang harapannya menjadi seorang ayah.
Luna Maya dan Maxime tuh ternyata mikirin masa depan pelan-pelan, bukan buru-buru
Dalam sebuah wawancara bersama Melaney Ricardo, Maxime mengungkapkan kalau dirinya mempunyai harapan apabila kelak dikaruniai anak, ia ingin anak pertamanya perempuan. Setelah itu, ia berharap anak keduanya laki-laki. Ia juga menjelaskan alasannya. Menurutnya, seorang kakak perempuan bisa menjadi contoh bagi adiknya, termasuk mengajarkan bagaimana menghormati dan memperlakukan perempuan dengan baik. Namun ia juga menegaskan bahwa apabila Tuhan memberikan anak laki-laki lebih dulu, ia tetap akan menerimanya dengan penuh rasa syukur. (Wikipedia)
Kalau dipikir-pikir, jawaban itu sebenarnya bikin banyak orang mengangguk pelan.
Bukan karena urutan anaknya.
Tetapi karena terlihat bahwa Maxime sedang membayangkan keluarga yang penuh kasih sayang. Ia sedang membicarakan nilai yang ingin dibangun di rumahnya nanti.
Dan menurut min Age, ini menarik.
Soalnya zaman sekarang sering kali orang sibuk merancang pesta pernikahan, tapi lupa merancang nilai yang ingin dibangun setelah pesta selesai.
Padahal, setelah dekorasi dibongkar...
Setelah bunga-bunga mulai layu...
Setelah gaun pengantin disimpan kembali...
Yang tersisa adalah kehidupan sehari-hari.
Bangun pagi.
Sarapan.
Beres-beres rumah.
Saling mengingatkan.
Saling memahami ketika capek.
Dan nanti, kalau Tuhan mengizinkan, belajar menjadi orang tua.
Justru bagian inilah yang paling panjang.
Kalau dipikir lagi, rumah tangga itu mirip naik gunung.
Foto di puncaknya memang indah.
Tapi perjalanan menuju puncaknya jauh lebih panjang daripada momen berfotonya.
Begitu juga pernikahan.
Foto akad mungkin hanya berlangsung beberapa menit.
Sedangkan membangun keluarga berlangsung bertahun-tahun.
Di sinilah banyak orang merasa jawaban Maxime terdengar dewasa. Ia memang punya harapan, tetapi ia tidak memaksakan kenyataan harus mengikuti keinginannya.
Kalimat sederhananya seolah berkata,
"Kalau dapat perempuan, Alhamdulillah. Kalau laki-laki dulu juga Alhamdulillah."
Dan mungkin memang seperti itulah cara terbaik memandang kehidupan.
Punya rencana boleh.
Punya harapan juga boleh.
Tetapi tetap memberi ruang kepada Tuhan untuk menentukan cerita terbaik.
Soalnya, kadang hidup memang lebih pintar menulis skenario daripada manusia.
Kalau semua harus sesuai checklist kita, mungkin hidup malah kehilangan kejutan-kejutan indahnya.
Luna Maya dan Maxime kayak ngingetin kalau jadi orang tua itu nggak ada tombol instan
Hal lain yang membuat banyak orang memberikan respons positif adalah ketika pembicaraan bergeser ke pertanyaan yang hampir selalu diterima pasangan yang baru menikah.
"Kapan punya anak?"
Lucunya ya warga...
Pertanyaan ini sepertinya sudah menjadi "fitur bawaan" masyarakat Indonesia.
Kadang baru seminggu menikah.
Belum selesai buka semua kado.
Belum hafal letak sendok di dapur.
Eh... sudah ditanya.
"Kabar bayi gimana?"
Kalau diteruskan, mungkin habis punya bayi nanti ditanya lagi,
"Kapan nambah?"
Setelah dua anak,
"Kapan tiga?"
Memang ada-ada saja.
Untungnya, Maxime menjawab pertanyaan itu dengan santai. Ia menjelaskan bahwa dirinya dan Luna saat ini masih menikmati proses beradaptasi sebagai pasangan suami istri. Menurutnya, mereka ingin memastikan fondasi rumah tangga benar-benar kuat sebelum melangkah ke tahap berikutnya sebagai orang tua. Ia juga menyampaikan bahwa rencana memiliki anak memang ada, namun waktunya masih mereka persiapkan bersama. (Wikipedia)
Menurut min Age, jawaban ini layak diapresiasi.
Karena menjadi ayah dan ibu bukan perlombaan.
Tidak ada medali emas untuk pasangan yang paling cepat punya anak.
Tidak ada piala untuk yang paling duluan menggendong bayi.
Setiap keluarga punya waktunya sendiri.
Setiap pasangan punya ritmenya sendiri.
Dan itu patut dihormati.
Luna Maya dan Maxime ngajarin kalau keluarga bahagia itu dibangun dari kesiapan, bukan sekadar kecepatan
Kalau kita perhatikan lebih dalam, ada satu hal yang sering luput saat membahas kehidupan pasangan yang baru menikah.
Banyak orang fokus pada hasil akhirnya.
"Kapan punya anak?"
"Kapan momong?"
"Kapan kasih cucu?"
Padahal, ada proses yang jauh lebih penting untuk dipersiapkan.
Yaitu menjadi pribadi yang siap menjadi orang tua.
Menjadi ayah bukan sekadar bisa menggendong bayi.
Menjadi ibu juga bukan sekadar pandai menenangkan anak yang menangis.
Ada banyak hal yang harus dipelajari. Cara berkomunikasi. Cara menyelesaikan perbedaan pendapat. Cara mengatur waktu. Cara mengelola emosi saat sama-sama lelah. Sampai cara tetap menjadi pasangan yang saling mendukung di tengah kesibukan mengurus keluarga.
Itulah kenapa keputusan Luna Maya dan Maxime untuk menikmati masa-masa awal pernikahan lebih dulu terasa masuk akal.
Mereka sedang membangun pondasi.
Karena rumah yang kuat bukan ditentukan oleh seberapa cepat atapnya dipasang.
Rumah menjadi kokoh karena pondasinya dibuat dengan sabar.
Analogi sederhana ini juga berlaku dalam kehidupan rumah tangga.
Kalau pondasinya sudah kuat, ketika nanti hadir anak, mereka tidak hanya mendapatkan orang tua yang bahagia. Mereka juga tumbuh di lingkungan yang penuh rasa aman, saling menghargai, dan dipenuhi kasih sayang.
Menurut min Age, inilah sudut pandang yang menarik untuk kita renungkan bersama.
Kadang kita terlalu sibuk mengejar "kapan", sampai lupa menikmati "sekarang".
Padahal setiap fase kehidupan punya keindahannya sendiri.
Saat masih sendiri, ada ruang untuk mengenal diri.
Saat berpacaran, ada ruang untuk mengenal pasangan.
Saat menikah, ada ruang untuk belajar hidup bersama.
Dan ketika nanti menjadi orang tua, akan hadir babak baru yang penuh cerita.
Kalau semua tahapan itu dijalani dengan tenang, setiap langkah akan terasa lebih bermakna.
Apalagi dalam kehidupan nyata, tidak semua rencana berjalan persis seperti yang kita bayangkan.
Ada pasangan yang cepat dikaruniai anak.
Ada yang harus menunggu.
Ada yang memilih fokus membangun karier terlebih dahulu.
Ada pula yang lebih dulu mempersiapkan kesehatan fisik dan mental.
Tidak ada yang lebih mulia hanya karena lebih cepat.
Yang terpenting adalah setiap keputusan diambil dengan penuh tanggung jawab dan saling mendukung sebagai pasangan.
Itulah yang membuat kisah Luna Maya dan Maxime terasa dekat dengan banyak orang.
Bukan karena mereka dikenal publik.
Tetapi karena mereka juga menjalani proses kehidupan yang sama seperti pasangan lainnya.
Mereka tetap belajar.
Tetap beradaptasi.
Tetap berdiskusi.
Dan tetap menyusun mimpi bersama.
Mungkin itulah pesan yang paling indah.
Bahwa pernikahan bukan tentang siapa yang paling cepat mencapai tujuan.
Melainkan siapa yang tetap berjalan berdampingan, saling menguatkan ketika langkah terasa berat, dan tetap bersyukur di setiap fase kehidupan.
Kalau nanti Tuhan mengaruniakan mereka anak perempuan seperti yang diharapkan Maxime, tentu itu menjadi kebahagiaan tersendiri.
Kalau ternyata Tuhan menghadiahkan anak laki-laki lebih dulu, itu pun tetap menjadi anugerah yang luar biasa.
Karena pada akhirnya, anak bukan hadiah atas keinginan manusia.
Anak adalah amanah yang dipercayakan Tuhan kepada orang tua pada waktu yang paling tepat menurut-Nya.
Dan mungkin di situlah letak pelajaran yang bisa kita bawa pulang dari obrolan sederhana ini.
Harapan boleh setinggi langit.
Rencana boleh disusun serapi mungkin.
Tetapi hati tetap perlu belajar menerima setiap takdir dengan lapang.
Sebab keluarga yang hangat tidak dibangun oleh jenis kelamin anak pertama.
Keluarga yang hangat dibangun oleh cinta, komunikasi, rasa hormat, dan doa yang tidak pernah putus.
Nah warga, obrolan sederhana tentang harapan Maxime ini ternyata membawa kita ke pembahasan yang lebih luas. Tentang kesiapan, tentang kesabaran, dan tentang menikmati setiap fase kehidupan tanpa harus terus membandingkan diri dengan orang lain.
Kalau kamu sudah menikah, semoga obrolan ini jadi pengingat bahwa setiap keluarga punya waktunya sendiri.
Kalau kamu masih sendiri, semoga ini juga menjadi penyemangat bahwa membangun keluarga bukan soal mengejar cepat, tetapi mempersiapkan diri menjadi pribadi yang lebih baik setiap hari.
Karena pada akhirnya, rumah yang paling nyaman bukan rumah yang paling mewah.
Melainkan rumah yang di dalamnya selalu ada rasa saling menghargai, saling mendengar, dan saling mendoakan.
Kalau menurut warga gimana nih? Setuju nggak kalau kesiapan justru lebih penting daripada terburu-buru? Tulis pendapat kalian di kolom komentar ya. Min Age selalu senang baca cerita dan sudut pandang dari warga semua. Siapa tahu pengalaman kamu bisa menguatkan warga lainnya yang sedang menjalani fase kehidupan yang sama.
Posting Komentar untuk "Luna Maya dan Maxime Bouttier Punya Harapan Manis Soal Anak Pertama, Sudah Siap Jadi Ayah?"